oleh

Martin Desky: Perguruan Tinggi Kebanggaan Warga Agara Itu Harus Ditangani Orang Mumpuni

AGARA – Universitas Gunung Lauser (UGL), kini terancam bubar. Selain ditinggal Plt Rektor Desi Sari Pasca Sembiring, yang hanya tahan menjabat beberapa bulan saja, kini perkuliahan pun hampir vakum.

 Ditengarai, masalah ini karena ketidak-cocokan pihak yayasan dengan kebijakan-kebijakan rektorat.

 Sebagai tokoh masyarakat dan asli putra daerah Negeri Bumi Sepakat Segenep, Marten Desky, angkat bicara. Katanya, dia sangat resah melihat kondisi universitas kebanggaan masyarakat Aceh Tenggara itu.

 Dari sudut pandangnya, universitas itu tidak akan bertahan lama, kalau tidak ada perubahan dilakukan. Katanya, perguruan tinggi milik pemerintah Aceh Tenggara itu harus dikelola oleh orang-orang yang mumpuni.

 Kegelisahaan itu disampaikan mantan Sekda Aceh Tenggara itu kepada Posmetro Medan, Rabu lalu (3/7).

 Bahkan katanya, nasib UGL ini menjadi sorotan sejumlah kalangan dan tokoh msyarakat. Semula dihebohkan karena gaji dosen tidak terbayarkan selama satu tahun lebih, bahkan kini Plt Rektor yang baru saja menjabat mengundurkan diri.

 “Mereka (DPRK dan Bupati) adalah komponen yang bisa memastikan maju mundurnya dunia pendidikan khususnya UGL di bumi sepakat segenep ini. Selain DPRK dan Bupati seluruh stake holder, tokoh masyarakat, LSM, insan pers harus dilibatkan untuk membenahi UGL. Jika tidak universitas yang di kelola oleh daerah ini akan terancam ditutup,” jelas Marten Desky.

 Masih Martin Desky, katanya, “Jika mereka pihak yayasan atau pengurus tidak mampu untuk mengelola Yayasan UGL ini, lebih baik mereka diganti dengan yang memiliki kemampuan dan memiliki SDM yang mumpuni. Jika hal ini tidak dilakukan maka yang dirugikan adalah anak-anak atau generasi muda Aceh Tenggara,” tegas Marten Desky.

 Sebelumnya, Plt Rektor UGL Desi Sari Pasca Sembiring, dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya. Padahal diketahui, Desi Sembiring yang berasal dari USU ini baru hitungan bulan menjabat sebagai rektor.

 Kuat dugaan pengunduran diri rektor itu akibat ketidakcocokan dengan pengurus yayasan yang terlalu mengintervensi kebijakannya.

 Saat ini UGL memiliki 4 fakultas yakni Fakultas Ekonomi, Pertanian, Olahraga dan Keguruan. Akibat kekisruhan itu, aktivitas perkuliahan di universitas terbesar di Aceh Tenggara tersebut terancam nonaktif. (abadi selian mantan/tobing)

example banner

This site is using SEO Baclinks plugin created by Locco.Ro

example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed