oleh

Pertanyaan ‘Kapan Kawin’ Bukan Sekadar Basa-basi

example banner

Jakarta, CNN Indonesia — Kumpul bersama keluarga besar pada Hari Lebaran sudah di depan mata. Pada momen itu, pertanyaan-pertanyaan personal kerap dilontarkan sanak keluarga. Termasuk salah satunya pertanyaan yang agak membuat hati gelisah: kapan kawin?

Bukan basa-basi, bukan juga ujug-ujug dan tanpa alasan. Pertanyaan ‘kapan kawin’ ditengarai telah melekat dalam budaya dan kebiasaan yang dilakukan masyarakat Indonesia secara turun temurun.

“Karena itu ada di DNA kita semua. Ini budaya atau kebiasaan yang diwariskan. Bukan bagian basa-basa, tak bisa dihindari,” ujar pengamat sosial budaya Universitas Indonesia, Devie Rahmawati saat dihubungi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu

Pertanyaan yang bersifat pribadi ini, lanjut Devie, muncul di tengah masyarakat komunal atau negara-negara yang menganut budaya ketimuran seperti Indonesia.

Pada masyarakat komunal, batas-batas antara kehidupan pribadi dan kehidupan sosial sering kali kabur, bahkan tidak berbatas. Berbeda dengan masyarakat individualis seperti di dunia barat, batas antara kehidupan pribadi dan sosial terlihat jelas sehingga pertanyaan ‘kapan kawin?’ tak kerap jadi soal.

Perkembangan teknologi, menurut Devie, juga membuat pertanyaan ‘kapan kawin?’ jadi persoalan di Indonesia belakangan ini. Teknologi membuat generasi baru di Indonesia terpapar budaya barat sehingga mulai mengadopsi budaya tersebut.

“Generasi baru ini gamang karena secara mental dia manusia global, tapi fisiknya ada di timur,” ujar Devie.

Selain telah mengakar pada budaya masyarakat komunal seperti di Indonesia, pertanyaan ‘kapan kawin?’ juga muncul lantaran anggapan lama tentang menikah yang masih langgeng hingga saat ini. Sosiolog Dwi Winarno mengatakan, masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa menikah tak ubahnya bentuk kesuksesan seseorang.

“Karena kawin, kan, butuh persiapan yang tidak sedikit, kalau belum kawin dianggap belum sukses,” kata Dwi saat dihubungi terpisah.

Pertanyaan ini juga tidak bisa diartikan sebagai bentuk kepedulian. Lebih tepatnya, kata Dwi, pertanyaan ini sebaiknya dianggap sebagai sarana membangun keakraban, bukan umpatan atau hinaan.

“Kalau peduli, ya, biasa-biasa saja. Ini hanya membangun keakraban,” ujar Dwi.

example banner

This site is using SEO Baclinks plugin created by Locco.Ro

example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed