oleh

Wali Kota, Mie Goreng dan Teh Manis (Bagian-2/ Habis)

Catatan: Putra Marpaung

Masa iya…! Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, menolak tempuh jalur damai dengan pihak yang berseteru dengannya. Ironisnya, hanya karena alasan tak masuk akal.

Demi mendapat kepastian benar tidaknya sikap wali kota tersebut, kami pun memutuskan untuk menemui Jan Wiserdo Saragih. Sosok yang kini dianggap paling kencang berseteru dengan Wali Kota Siantar ini, tak sulit untuk ditemui. 

Kedai Kopi Hordja, menjadi pilihan tempat pertemuan kami. Lokasinya representatif dan masih satu areal dengan kediaman keluarga besarnya. Dari tampilannya, Warung Kopi Hordja sangat eksklusif. Condong bergaya cafe & resto. Sebab, ruangan dilengkapi dengan AC, TV, wi-fi, Live Music dan interior yang berkelas tinggi. Bahkan, satu rak di ruang santap, terlihat dihiasi beraneka ratusan jenis buku yang tersusun rapi. Siapa saja yang menikmati hidangan, bebas membacanya. Tapi dengan catatan, tak boleh dibawa pulang. Kami kemudian, diajak masuk lebih ke pojok ruangan. 

“Apa cerita? Kok macamnya ada yang serius kali,” tanya Jan Wiserdo, membuka obrolan kami saat baru duduk di sofa bermeja kayu jati kualitas tinggi. Sebelumnya, kami  memang sudah mengontak Jan Wiserdo lewat seluler. Sehingga, tak heran, pertemuan kami bisa lebih mencair. Jan Wiserdo, kemudian memanggil pelayan dan kami pun disuguhkan beranekaragam menu makanan.

Sekejap saja, hidangan yang kami pesan, tersaji di atas atas meja. Ada salad, stake, nasi goreng ayam dan kentang goreng. Jan Wiserdo tak langsung meneruskan pertanyaannya seputar kedatangan kami. Obrolan kami disekat hanya sebatas keberadaan warung miliknya. Baru setelah selesai menikmati hidangan, obrolan kami pun mulai masuk dalam inti materi. 

“Ha….ha….ha…,” tawa Jan Wiserdo pecah begitu kami mengonfrontir pernyataan petinggi ASN sebelumnya. Sebaliknya, Jan Wiserdo justru mengaku berulangkali diminta untuk mau bertemu wali kota. “Sampai sekarang bang. Cuma saya saja yang gak mau,” jawabnya mengonfirmasi.

Bahkan lanjut Jan Wiserdo, keinginan wali kota untuk duduk bersama dengannya, pernah dihargai dengan uang. “Ada yang langsung bawa uang bang. Asal saya mau bertemu,” kenangnya tak mau menyebut nama orang yang mendatanginya tersebut. 

Memutuskan untuk tidak bertemu dengan wali kota, terpaksa dilakukan Jan Wiserdo demi menghindar dari fitnah. Mengingat, proses Hak Angket yang mereka ajukan ke DPRD Siantar, hingga kini masih berjalan. Disebutkan Ketua Umum KNPSI, ini persoalan penistaan terhadap Suku Simalungun yang mereka anggap dilakukan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, sangat terstruktur dan masif. “Seolah sudah di disain bang. Ini yang membuat kami Suku Simalungun, merasa sangat tersakiti,” paparnya.

Saat ini, Inisiator Hak Angket ini mengaku, kini mereka hanya tinggal mengawal hasil akhir dari keputusan DPRD Siantar. “Kita tinggal kawal itu. Jadi bukan lagi persoalan bertemu atau tak betemu wali kota yang kita bahas,” tutup Jan Wiserdo mengakhiri, sambil berpesan kepada para petinggi ASN, untuk tidak berspekulasi dalam persoalan ini. Sehingga, tidak semakin memperkeruh suasana. Ibarat mie goreng dan teh manis, diudek, dikaco dan dikocok-kocok dulu baru afdol untuk dinikmati.

Lega rasanya mendapat keterangan Jan Wiserdo. Saatnya sekarang, tinggal menunggu apa yang akan diputuskan oleh DPRD Siantar. Dimakzulkan atau tidak dimakzulkan wali kota nantinya, tinggal menunggu prosesnya yang kini mendekati final. (***)

example banner

This site is using SEO Baclinks plugin created by Locco.Ro

example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed