oleh

Menengok Korban Kebakaran dalam Tenda Darurat BPBD Kota Siantar

SINATAR, GN- Menyedihkan. Tanpa bantal, selimut dan kasur. Tidur beralas tikar di dalam tenda darurat BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Siantar, tentu tak pernah dibayangkan para korban kebakaran yang kini kehilangan tempat tinggal.

Malam pertama pascakebakaran menimpa 7 unit rumah di Jalan Rakutha Sembiring Kelurahan Sigulang-gulang Kecamatan Siantar Utara, para korban belum mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Siantar. Terlihat sangat jelas ketika tenda darurat baru bisa ditempati para korban, 8 jam setelah api berhasil dipadamkan. Terkesan lamban dan ironi sekali, tatkala lampu penerangan di dalam tenda juga baru terfasilitasi pukul 00.00 WIB. Tak ada pasokan makanan dari pemerintah malam itu.

Para korban tak punya pilihan. Bersama keluarga, akhirnya mereka menempati tenda darurat untuk sekadar perlindungan dan beristirahat setelah keletihan menyaksikan rumah dilalap si jago merah. Tak ada harta bisa diselamatkan. Baju di badan cukup untuk menunggu malam berganti siang.

Pemerintah Kota Siantar dalam hal ini BPBD Kota Siantar, menunjukkan ketidakseriusan menanggulangi para korban bencana kebakaran. Baru 7 rumah ditambah satu Gereja Huria Kristen Indonesia. Bagaimana jika korban berjumlah lebih banyak dari itu. Tak berharap memang hal itu terjadi. Namun, paling tidak BPBD harus terus berbenah. Apalagi, anggaran daerah cukup besar disalurkan kepada BPBD di bawah tongkat kendali Daniel Siregar selaku pimpinannya.

Sampai Kamis dinihari, para korban belum mendapatkan perhatian srius. Jangankan fasilitas MCK, makanan pun mereka tak diberikan pemerintah hingga Rabu malam. Pemerintah baru menyalurkan pasokan makanan pada Kamis pagi. Begitu pun, fasilitas MCK tak tersedia.

Sebagaimana diketahui, Rabu. (29/08/2018) siang, setidaknya 7 unit rumah terbakar hingga tak lagi bisa dihuni. Sumber api disebut-sebut berasal dari kediaman Pardomuan Tambunan (35) yang membuka usaha warnet. Dari situ lalu, api merembet ke sisi kanan dan kiri rumah hingga total 7 unit rumah dan satu gereja ikut dijilat si jago merah. Tak terkecuali Rumintang Hutagalung (60), ibu Pardomuan, ikut menjadi korban karena rumahnya jadi target utama kobaran api. Selanjutnya, rumah Maruahal Sianturi (55) sekaligus usaha bengkelnya, hangus tak terselamatkan. Tinur Lumbantobing bersama saudaranya Meri Lumbantobing, yang rumahnya juga sebagai usaha salon, juga tak luput dari kepungan api. Begitu juga rumah Hutapea dan Sirait, gosong tak bisa ditempati lagi. Sebelum api makin merembet, pemadam kebakaran berhasil menjinakkan api yang mulai menjilati bagian belakang dan samping Gereja HKI. (Sutan Harefa)

example banner

This site is using SEO Baclinks plugin created by Locco.Ro

example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed